Kanker menjadi penyebab
kematian nomor 1 di banyak negara, termasuk di Indonesia. Meski dapat
dideteksi dini dan diobati dengan terapi termutakhir, penyakit ini tetap
punya ancaman mematikan. Yang jadi masalah, masih banyak orang yang
meski tahu bahaya kanker tapi tetap menjalani gaya hidup tidak sehat.
“Ada
banyak hal yang bisa jadi pemicu munculnya kanker dalam tubuh, dan
salah satunya adalah pola makan tidak baik,” kata Ahli Kesehatan dan
pemerhati gaya hidup lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegeoro
Semarang, Dr. Grace Judio Kahl, Msc,MH,CHt dalam acara Talk Show
Kesehatan di FX Plasa Sudirman, Jakarta.
Kendati tidak semua
kanker berkaitan dengan makanan, namun pola makan tidak sehat jelas akan
meningkatkan risiko terjadinya kanker. Banyak mengonsumsi gorengan dan
berbagai makanan yang dipanaskan dalam suhu tinggi serta penggunaan
minyak yang dipakai berulang bisa menjadi salah satu sumber pemicu
terjadinya penyakit kanker.
“Protein, daging dan apapun itu, jika
dipanaskan dalam suhu tinggi ditambah pengawet buatan bisa menyebabkan
perubahan sel dalam tubuh mejadi lebih cepat dan bisa menjadi pemicu
kanker,” katanya.
Seorang peneliti kanker, Eden Tareke dari
Universitas Stockholm, Swedia, menemukan akrilamida, bahan pemicu kanker
yang terbentuk pada makanan yang dipanaskan. Menurut penelitian itu,
makanan kaya karbohidrat jika digoreng akan terurai, kemudian bereaksi
dengan asam amino menghasilkan senyawa karsinogenik (pemicu kanker) yang
bernama akrilamida.
Untuk itu, selalu menjaga pola makan teratur
dan melakukan gaya hidup sehat sejak dini bisa melindungi diri Anda
dari serangan penyakit berbahaya. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
sesuai kebutuhan tubuh dengan porsi karbohidrat yang cukup 50-50 persen,
mengandung serat tinggi 3-4 porsi harian, cukupi kebutuhan buah dan
sayur masing-masing 3 porsi setiap hari serta protein nabatai 1-2 porsi
sehari.
Mengurangi makanan tinggi lemak dan mengonsumsi banyak ikan bisa menggantikan porsi lemak dalam tubuh.
“Buah
dan sayur harus lebih banyak dari pada karbohidrat dan protein. Kurangi
konsumsi gula , tepung dan makanan kaya lemak. Minum air minimal 2
liter per hari, mengonsumsi tambahan suplemen bila diperlukan hindari
ngemil dan merokok serta perbanyak olahraga. Ini penting untuk masa
depan hidup yang sehat.”
Tahu dan Tempe Bisa Picu Sel Kanker Payudara?
Tahu
dan tempe yang berbahan dasar kedelai dikenal sebagai makanan murah dan
kaya gizi. Konsumsi tahu dan tempe sangat penting bagi wanita, karena
dianggap dapat memperlambat penuaan.
Namun, bagi penderita kanker
payudara tipe tertentu dianjurkan untuk mengurangi konsumsi tahu dan
tempe. Sebab, bisa memicu pertumbuhan sel kanker makin cepat.
Tahu
dan tempe mengandung phytoestrogen, yaitu senyawa kimia yang merupakan
hormon tumbuhan (phyto artinya tumbuhan), yang memliki struktur kimia
menyerupai hormon estrogen pada tubuh manusia. Karena itulah
phytoestrogen dianggap bisa membantu menanggulangi masalah penurunan
estrogen pada wanita.
Namun, bagi penderita kanker payudara jenis
tertentu, konsumsi tahu dan tempe yang bisa memicu makin meningkatnya
jumlah hormon estrogen dalam tubuh yang justru bisa merangsang
penyebaran kanker lebih cepat.
“Meski tidak semua kanker
payudara, namun ada jenis kanker payudara tertentu yang pertumbuhan sel
kankernya justru dipengaruhi oleh estrogen. Untuk itu, bagi penderita
kanker payudara disarankan untuk mengurangi konsumsi makanan estrogen
seperti tahu dan tempe, termasuk juga kulit ayam,” kata Ahli Kesehatan
dan pemerhati gaya hidup lulusan Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegeoro Semarang, Dr Grace Judio Kahl, Msc,MH,CHt dalam acara Talk
Show Kesehatan di FX Plasa Sudirman, Jakarta.
Meski tahu tempe
berbahaya untuk penderita kanker payudara jenis tertentu, makanan yang
mudah didapat dengan harga murah ini tetap memiliki manfaat, tentunya
bagi mereka yang tidak memiliki pantangan untuk mengonsumsi kedelai.
“Untuk
itu, selektif dalam memilih makanan itu penting, terutama bagi Anda
yang mengidap penyakit tertentu. Konsultasi dengan dokter ahli gizi
untuk membantu mengatur pola makan,” ujar dr Grace.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar